Di antara gunung-gunung lain di Indonesia, Rinjani memiliki pemandangan yang paling indah. Rinjani juga menjadi salah satu gunung favorit bagi pendaki Indonesia. Setiap tahun animo pengunjung untuk mendaki Gunung Rinjani terus bertambah.

Gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia ini memiliki keanekaragaman flora dan fauna eksotik. Hal tersebut menjadi salah satu daya tariknya bagi para pendaki dan pecinta alam. Dibutuhkan waktu sekitar tiga hari dua malam untuk mencapai puncak, lalu kembali. Para pendaki Rinjani mengakui menemukan keajaiban alam, membangkitkan jiwa petualangan, dan menambah kecintaan pada alam.

Bagi umat Hindu, Gunung Rinjani dianggap sebagai tempat suci, karena mereka meyakini di puncak gunung ini merupakan tempat tinggal para dewa. Sebuah mitos yang dipercaya masyarakat Sasak, bahwa dahulu Gunung Rinjani merupakan wilayah atau kerajaan yang dipimpin seorang ratu bernama Dewi Anjani.

Pesona Gunung Rinjani

Pesona Wisata Gunung Rinjani

Di sebelah barat: Kerucut gunung dengan kawah memanjang dari timur ke barat. Di dalamnya terdapat Danau Segara Anak, dengan kedalaman maksimum 300 meter. Para pendaki biasana memancing di danau ini. Warga setempat datang ke tempat ini untuk memanjatkan doa, dan mencelupkan diri ke dalam sumber air panas guna menyembuhkan penyakit.

Pesona Wisata Gunung Rinjani

Di sebelah timur: Kaldera Gunung Barujari (baru jadi, bahasa sasak). Gunung RInjani pernah meletus pada tahun 19944, 1966, dan 1994. Letusan pada tahun 1944 inilah yang membentuk Gunung Barujari.

Trekking Rinjani

Perjalanan mendaki Gunung Rinjani biasanya ditempuh dalam waktu 3 hari 2 malam dengan rute berikut:

Hari 1: Tiba di Sembalun menitipkan barang-barang, Perjlanan dimulai melewati hamparan sabana Rinjani yang eksotis, menuju Pelawangan Sembalun. Tiba di Pos 3, beristirahat dan bermalam.

Hari 2: Dini hari meninggalkan Pos 3, menuju puncak Rinjani. Di sinilah pendakian sesungguhnya baru dimulai, yang dinamakan “tanjakan penderitaan”. Sebelum subuh biasanya tim sudah berada di puncak. Suhu di Puncak Rinjani sangat dingin, rata-rata 20℃ dan minumum 12℃. Setelah rehat dan makan siang, dilanjutkan menuju Danau Segara Anak, dan bermalam di sini.

Hari 3: Pagi hari meninggalkan Danau Segara Anak menuju Plawangan Senaru. TIba di Pos 3 Senaru, istirahat dan melanjutkan perjalanan pulang ke Desa Senaru.

Penasaran dan ingin langsung menikmati indahnya alam Rinjani? Temukan paket perjalanannya di ASIA WISATA

Jepara selain terkenal akan kota pesisir yang identik dengan wisata pantai dan baharinya, namun Jepara juga memiliki daerah wisata pegunungan. Air Terjun Songgo Langit  Jepara adalah air terjun yang terletak di Blucu, Kembang, 30 km sebelah utara dari pusat Kota Jepara. Air terjun ini mempunyai ketinggian 80 meter dengan lebar 2 meter. Jarak tempuh dari kota Jepara kurang lebih 30 km di sebelah utara Kota Jepara.

Akses Menuju SonggoLangit

Untuk mencapai wisata air terjun ini cukup mudah, bila kamu menggunakan kendaraan sendiri (roda 2 maupun roda 4) dari pusat Kota Jepara kamu hanya mengikuti saja jalan ke arah utara yang menuju jalur Kabupaten Pati yaitu melewati rute Kecamatan mlonggo – Kecamatan Bangsri dan Kecamatan Kembang. Jarak rute Jepara ke Kecamatan Kembang kurang lebih 20 km dari Kecamatan Kembang kurang lebih 2 km kamu akan sampai pertigaan jalan menuju Desa Cepogo. Pertigaan ini mudah ditemukan, karena selain keadaannya yang memang ramai namun juga di pinggir jalan terdapat papan petunjuk wisata air terjun Songgolangit.

Dalam papan petunjuk ini wisata air terjun Songgo Langit berjarak 11 km dari pertigaan ini kita mengambil arah ke kanan atau timur. Sepanjang kurang lebih 2 km perjalanan akan kita lalui adalah daerah hutan jati. Di sela-sela tanaman pohon jati milik Perhutani ini terdapat tanaman-tanaman Palawija milik masyarakat setempat. Dimana tanaman Palawija ini dikelola oleh masyarakat dalam wadah Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM).

Air terjun ini terletak di Dusun Dukuh Ngelencer, Bucu, Kembang, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Disekitar air terjun ini dapat dijumpai beragam kupu-kupu. Walaupun menarik wisatawan, air terjun ini dipasangi peringatan dilarang berenang karenanya banyaknya korban tenggelam sebab ada palung sedalam 8 meter. Untuk mencapai Air Terjun Songgolangit dapat ditempuh dengan kendaraan roda 2 maupun roda 4 dengan kondisi jalan beraspal. Ongkos ojek ini lumayan sekitar Rp.20.000,- antar pulang atau pergi.

Air Terjun Songgo Langit Jepara

Legenda Air Terjun SonggoLangit

Dikisahkan ada seorang jejaka yang berasal dari Desa Tunahan menjalin cinta dengan seorang gadis cantik asal Dukuh Sumanding Desa Blucu Kecamatan Kemabng. Jalinan cinta mereka akhirnya berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. Di sini diceritakan bahwa antara Desa Tunahan dan Desa Blucu terbentang sungai (sekarang ini sungan yang berada di atas obyek wisata tersebut airnya mengalir ke bawah menjadi air terjun).

Pada zaman dahulu seorang laki-laki melamar seorang perempuan harus membawa perabotan dapur seperti wajan, piring, gelas dan lain-lain. Serta membawa hewan piaraan kerbau, sapi atau kambing, Pada suatu fajar si isteri bersiap menyiapkan makanan pagi untuk suami tercinta. Dalam penyediaan sarapan tersebut si isteri kurang hati-hati sehingga menimbulkan suara-suara alat dapur yang saling bersentuhan.

Alkisah, sang mertua (ibu si isteri) menegur anaknya “ojo glondhangan, mengko mundhak bojomu tangi”  atau dalam Bahasa Indonesia “jadangan gaduh, nanti suamimu terbangun”. Rupanya si suami salah mendengar “kerjo kok glondhangan, rumangsamu barange bojomu” atau dalam Bahasa Indonesia “Kok gaduh, memangnya bawrang bawaan suamimu”. Pada saat itu juga si suami merasa tersinggung dengan perkataan sang mertua itu, kemudian pada saat tengah malam kedua pengantin tersebut berniat pergi dari rumah untuk pindah ke tempat asal suami dengan mengedarai pedati yang ditarik oleh sapi. Oleh karena jalannya begitu gelap, maka pedati yang mereka tumpangi salah jalan (kesasar) sehingga terasa pedati tersebut masuk jurang yang sangat dalam (sekarang air terjun Songgo Langit) dan sepasang pengantin tersebut hilang tidak ada yang mengetahui keberadaannya.

Legenda tersebut bersifat turun temurun dan masil melekat kuat di hati masyarakat setempat sehingga merupakan pantangan antara orang-orang desa Tunahan dan Desa Blucu untuk hidup sebagai suami-isteri, karena dikuatirkan hubungan rumah tangga mereka akan mengalami kemelut. Juga masyarakat sekitar percaya pada legenda sepasang suami-isteri yang menjadi penunggu kawasan itu. Mereka juga percaya air yang mengalir dari air terjun tersebut berkhasiat membuat awet muda.

Tiket Masuk Wisata Songgolangit

Tiket masuk ke obyek wisata Air Terjun Songgolangit ini adalah Rp.2000,- untuk dewasa dan Ro.1000,- untuk anak-anak. Sedangkan biaya parkir adalah Rp.2500,- untuk kendaraan roda empat, Rp.1.000,- untuk kendaraan roda dua dan Rp.5.000,- untuk bisa. Sebagai tujuan wisata, air terjun ini dilengkapi area parkir, toilet dan warung penjual makanan.

Dieng adalah salah satu aset Indonesia, keindahan alamnya dengan julukan “Negeri di Atas Awan“. Dieng merupakan daerah dataran tinggi yang terletak di Jawa Tengah, masih termasuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Lokasinya sebelah barat komplek Gunung Sumping. Dieng merupakan objek wisata alam yang sangat mengagumkan terutama Telaga Warna dan Telaga Pengilon menjadi bagian dari sekian banyak citra anggun pariwisata dataran tinggi Dieng.

Kawasan Dieng adalah penghasil sayuran dataran tinggi yang ada di Jawa Tengah. Hasil utama dari perkebunannya adalah Kentang. Selain sayuran, Dieng juga penghasil pepaya gunung (carica) dan jamur. Jika kamu berada di Dieng, pada seluruh penjuru mata angin kami bisa menjumpai pemandangan pegunungan dan perbukitan seperti mengepung wilayah ini. Beberapa gunung diantaranya:

1.Gunung Prau

Gunung Prau terletak pada ketinggian 2560 mdpl, masuk wilayah beberapa Kabupaten sekaligus. Wilayah Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal. Bentuk Gunung Prau yang memanjang meliputi beberapa wilayah Kabupaten sehingga memungkinkan Gunung ini untuk ditempuh melalui beberapa alternatif jalur pendakian.

2.Gunung Sikunir

Bagi yang pernah ke Dataran Tinggi Dieng, Gunung Sikunir tentu sudah tidak asing. Gunung dengan ketinggian kurang lebih 2350 mdpl ini sering didaki para wisatawan untuk menyaksikan panorama Golden Sunrise Dieng yang indah. Di bawah gunung ini  terdapat Telaga Cebong, yang juga merupakan point awal pendakian menuju puncak. Jarak tempuh menuju puncak memakan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam. Meski jalur pendakian tidak terlalu sulit, disarankan bagi wisatawan agar ditemani oleh Guide lokal, apalagi jika mendaki dipagi buta mengingat kanan-kiri jalur pendakian lumayan curam. Dari puncak Sikunir ini, selain bisa melihat sunrise pendaki juga bisa menyaksikan pemandangan lima gunung sekaligus, yaitu: Gunung Sindoro, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, Gunung Kembang, dan Gunung Perahu.

3. Gunung Pakuwaja

Terletak di selatan Gunung Sikunir, gunung ini memiliki ketinggian kurang lebih sekitar 2413 mdpl ini memiliki jalur pendakian yang lebih mudah dengan jarak tempuh antara 30 menit hingga satu jam. Mulai dari Desa Sembungan sepanjang perjalanan kamu akan melihat perladangan penduduk, rerumputan dan semakin naik kamu akan menjumpai batu andesit berserakan. Dari berbagai informasi bahwa Komplek Candi di Dieng dibangun dari batu-batu andesit tersebut. Yang unik dari Gunung Pakuwaja ini adalah di puncaknya kamu akan melihat batu bear menjulang berbentuk serupa Menhir. Dari puncak Gunung Pakuwaja kamu dapat meilhat lanskap dataran tinggi Dieng dengan lebih leluasa.

Telaga Warna dan Telaga Pengilon

Telaga Warna dan Telaga Pengilon adalah tempat yang sangat cantik untuk dieksplorasi. Lokasi ini sangat mempesona, bahkan kebanyakan orang yang datang ke Dieng hanya untuk mengunjungi kompleks ini (Telaga Warna dan Telaga Pengilon). Mereka tidak berjalan di sekitar wilayah dan tidak pernah mencari tahu tentang atraksi lainnya. Telaga Warna terletak di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, di mana pemandangannya sangat indah. Telaga Warna memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan danau lainnya di Indonesia. Keunikan Telaga Warna adalah warna airnya yang sering mengalami perubahan, kadang-kadang merah, hijau, biru, putih, dan ungu. Sebuah fenomena alam yang unik di Telaga Warna ini karena di danau ini mengandung belerang yang cukup tinggi. Belerang ini ketika terkena sinar matahari akan menyebabkan warna yang lain.

Tak lengkap rasanya jika mengunjungi obyek wisata di Dieng hanya ke Telaga Warna tetapi tidak mengunjungi Telaga Pengilon yang lokasinya berdekatan dengan Telaga Warna. Uniknya meskipun terletak berdekatan dengan Telaga Warna, Telaga Pangilon memiliki karakteristik yang berbeda dengan Telaga Warna. Telaga Pengilon memiliki warna air yang jernih dan tanpa warna seperti di Telaga Warna. Bagi penggemar fotografi pasti akan senang dengan pemandangan di sekitar Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Di mana ada telaga yang dikelilingi oleh bukit-bukit subur dan hijau.

Harga tiket masuk wisata Dieng

Komplek Candi Arjuna Rp.10.000,- Museum Kaliasa Rp.5.000,- Telaga Warna Rp.7.000,- Telaga Merdada Rp.5.000,- Kawah Sileri Rp.5.000,- Kawah Candradimuka Rp.5.000,- Sumur Jalatunda Rp.5.000,- dan Golden Sunrise Rp.4.000,- untuk tarif parkir motor dan mobil Rp.2.000,- sedangkan bus Rp.4.000,-.

Bila kamu menggunakan kendaraan umum maka kamu dapat berangkat dari Terminal  Wonosobo  dan menempuh jarak kira-kira 30km dengan waktu tempuh kira-kira 45 menit sampai satu jam. Ongkos yang harus dibayar sekitar Rp.10.000,-/orang.

Fasilitas lain

Bagi kamu yang ingin bermalam di Dieng tak perlu khawatir, karena banyak terdapat tempat penginapan di wilayah Dieng salah satunya adalah Penginapan Dieng Mawar yang terletak di Desa Dieng Kulon Rt. 04 Rw. 02 Batur Banjarnegara, Jawa Tengah. Ada juga penginapan Dieng Kenanga yang terletak di Desa Dieng Kulon Rt. 03 Batur Banjarnegara, Jawa Tengah. Kedua penginapan itu dapat menjadi pilihan karena harga sewanya terjangkau.