Berbicara mengenai wisata, tidak selalu tempat seperti pantai, danau maupun gunung yang menjadi tujuan seorang wisatawan datang berkunjung, melainkan juga karena ketertarikan mereka terhadap budaya yang dimiliki oleh daerah tersebut. Kali ini Asia Wisata akan berbagi mengajak sahabat semua mengenal keunikan budaya  Magelang.

Kabupaten Magelang merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah dengan luas wilayahnya 108.573 Ha serta dikelilingi oleh Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Andong dan Pegunungan Menoreh.

Bukanlah sebuah hal yang baru jika ada pernyataan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan budayanya. Keberagaman dan keunikan budaya yang dimiliki oleh setiap daerah Indonesia menjadi aset penting yang dapat menarik perhatian wisatawan.

Tari Soreng

Tari ini mengambil cerita Arya Pengsang dari Kadipaten Jipang Panolan yang menggambarkan kegagahan dan keterampilan prajurit berlatih perang mempersiapkan kekuatan untuk elawan Kerajaan Pajang.

Kuda Lumping

Mengenal Budaya Magelang

Untuk hal yang satu ini menggunakan properti kuda kepang (dari anyaman bambu), yang menceritakan ketika Sewandana Wuyung ketika mencari Dyah Ayu Sanggalangit dengan mengutus Senopati Wiroyudo yang dikawal oleh pasukan berkuda.

Kobra Siswa

Kesenian ini merupakan seni tari Islami yang lahr di Dusun Cabean, Kelurahan Mendut sekitar tahun 1960. Kobra Siswa merupakan kependekan dari “Kesenian obahing badan lan Raga”. Terian ini menggunakan properti berupa pedang kecil dan tameng yang dibuat dari bambu sambil diiringi dengan bende dan jedor serta lantunan syair-syair yang isinya adalah dakwah.

Tari Topeng Ireng

Mengenal Budaya Magelang

Tarian ini lahir di daerah Tuksongo, Borobudur sekitar tahun 1950an dengan menggunakan kostum dari janur aren dan dirias menggunakan jelaga (langes) yang berwarna hitam. Dalam perkembangannya sekitar tahun 1980an kostum berubah menyerupai pakaian suku indian dari Amerika, gerakan tarian ini mengambil dari gerakan pencak Jawa.

Jathilan

Mengenal Budaya Magelang

Ini adalah tarian yang pemainnya menggunakan kuda dari kepang atau anyaman bambu.

Tari Warokan

Tarian ini mengadopsi tari Warok pada Kesenian Reog Ponorogo yang juga sering ditarikan oleh anak-anak (Dojek Bocah).

Kuntulan Budaya Magelang

Merupakan seni tari Islami dengan kostum baju berwarna putih dan selempang serta membawa kipas. Tarian ini diiringi dengan rebana dan syair-syair yang bersifat Islami. Nama kuntulan diambil dari nama “Kuntul” yaitu burung sejenis angsa yang berwarna putih.

Angguk Rame

Ialah tarian yang bersifat ISlami diiringi lagu shalawat serta memainkan alat musik terbang.

Lengger

Nah, yang satu ini merupakan tari pergaulan yang dibawakan oleh penari pria dan wanita sambil diiringi musik gamelan. Dalam pertunjukkannya penari pria sering menggunakan topeng.

 

Nusantara adalah alam seribu budaya dan adat istiadatnya. Sebagian besar dari pembaca mungkin sudah sering mendengar tentang Karapan Sapi atau balapan sapi dari Madura, Jawa Timur. Namun, kegiatan atau event tersebut juga dapat ditemukan di Sumatera Barat, masyarakat Minangkabau menyebutnya dengan Pacu Jawi. Lomba ini berlangsung selama 11 bulan per tahun, bergerak antar kecamatan di kabupaten, selalu berlangsung di sawah tepatnya di Kabupaten Tanah Datar.

Sapi-sapi yang akan ikut balapan  diberi nomor di tubuh mereka dan ada juga yang tidak. Tidak sedikit yang menghampiri dan menyentuh sapi-sapi tersebut. Kulitnya sedikit berbulu dan lembut, dan sapi itu hanya berdiri di pagar dengan tenang saat mengelus tengkuknya. Sapi memiliki mata yang benar-benar menenangkan karena mereka memiliki bulu mata yang panjang dan suram, baik yang jantan maupun betina.

Pengunjung yang datang ke acara Pacu Jawi ini tidak perlu khawatir akan kelaparan, karena warung makan dan restoran sementara dibangun di dekat arena balap. Acara ini begitu ramai, semakin semarak dengan bunyi Talempong, musik tradisional Minang, dimainkan oleh sekelompok pria yang duduk di bawah tenda. Orang-orang, termasuk moi, sedang menunggu kegembiraan untuk memulai lomba. Bagi pengunjung yang ingin berbelanja, khususnya wisatawan, mereka bisa berkeliling dan membeli pernak pernik serta makanan riangan yang dijajakan di sekitar lokasi tersebut.

Keseruan Pacu Jawi Minangkabau

Bagi pengunjung yang ingin mendapatkan tempat strategi untuk menyaksikan Pacu Jawi tersebut, kami sarankan untuk berada atau berdiri di sudut garis finish balapan di antara penonton lokal, anak-anak dan orang dewasa, detik-detik balapan dimulai semua bersorak untuk balap sapi dan joki.

Demografi dan Keseruan Pacu Jawi Minangkabau

Pacu Jawi berlangsung di sepanjang lapangan berlumpur sekitar 20-30 meter. Setiap pasangan  sapi dikemudikan oleh seorang joki dengan tangannya di ekor sapi dan kakinya di atas alat kayu yang mengikat sapi-sapi itu bersama-sama. Para joki menggigit salah satu ujung ekor sapi untuk membuatnya berjalan, diikuti oleh yang lain. Joki sering harus menggigit ekor lagi di tengah balapan agar sapi lebih cepat melaju. Biasanya hanya beberapa berjalan dalam satu pergi, diikuti dengan cepat oleh pasangan berikutnya. Jockey akan meregangkan lengan dan kaki selebar mungkin untuk mengarahkan dan menjaga sapi tetap bersama.

Keseruan Pacu Jawi Minangkabau

Terkadang sapi keluar dari jalur. Mereka lari ke samping dan berlari melewati penonton! Tentu seekor sapi tidak berbahaya, berarti tidak benar-benar mengejar atau membunuh orang, tapi dengan sosok besar seperti itu, seseorang harus bisa bersenang-senang cukup cepat untuk menghindari tertabrak seekor sapi. Sapi yang menjalankan garis finish tercepat dan lurus adalah pemenangnya.

Pacu Jawi ini sangat direkomendasikan bagi wisatawan yang ingin mengenal budaya Minangkabau. Untuk dapat mudah mengikuti event Pacu Jawi ini bisa cek paket turnya di Asia Wisata. Beberapa orang mungkin melihatnya sebagai perlombaan lumpur gila di tengah tanaman hijau yang indah dan menyilaukan mata, tapi gila atau tidak, ini adalah balapan tradisional yang benar-benar bebatuan!

Pacu Jawi benar-benar merupakan salah satu atraksi tradisional Indonesia yang dicintai dan dilestarikan oleh masyarakat Sumatera Barat, setidaknya sampai saat ini. Pengunjung harus siap untuk kotor dengan medan berlumpur di musim hujan, meski sebenarnya bukan kotor kalau bukan joki. Acara ini benar-benar mengagumkan! Ini penuh aksi, sangat tradisional,  gila, dan penuh sorak sorai.

Tidak salah bahwa Lombok menjadi salah satu primadona wisata Indonesia. Salah satu kebudayaan daerah lombok yang terkenal adalah tradisi Bau Nyale. Kebiasaan tahunan ini juga merupakan  identitas suku Sasak Lombok.

Pesta rakyat “Bau Nyale” atau Ambil Nyale ini dilaksanakan tiap tahun, yaitu setiap tanggal 19-20 bulan kesepuluh menurut penanggalan Sasak. Biasanya jatuh pada Februari atau Maret setiap tahunnya. Saat upacara ini ribuan pengunjung memadati pantai untuk mencari cacing atau nyale di laut. Masyarakat setempat mempercayai banyaknya  nyale yang ditangkap adalah rezeki yang akan didapat.

Legenda Putri Mandalika

Legenda di balik tradisi ini yaitu zaman dahulu ada seorang raja di Kerajaan Tinjang Beru yang memiliki seorang putri cantik bernama Mandalika. Kecantikannya membuat tujuh pangeran ingin meminang Putri Mandalika. Raja dan Permaisuripun bingung menentukan pilihan. Apabila salah satu pihak ditolak maka akan terjadi perang saudara. Kemudian sang raja menyerahkan keputusan kepada Putri Mandalika untuk menentukan jawaban pada tanggal 20 bulan sepuluh penanggalan Sasak.

Putri meminta kepada seluruh pangeran berkumpul di pantai untuk mendengarkan keputusannya. Dari atas sebuah bukit, Putri Mandalika mengatakan bahwa ia tidak akan memilih satupun dari tujuh pangeran yang melamarnya. Agar tidak terjadi  pertumpahan darah maka  Putri menceburkan dirinya ke laut, dan menjelma menjadi cacing laut (nyale).

Keunikan Tradisi Bau Nyale

Uniknya dalam acara tradisi ini, nyale keluar pada saat matahari akan muncul dari ufuk timur sekitar pukul empat pagi. Air laut surut sekitar 200 meter dari bibir pantai, kemudian para pengunjung berbondong-bondong mencari nyale dengan sorokan/jaring halus dan cahaya senter. Setelah matahari muncul, berangsur-angsur nyale menghilang, dan air laut mulai pasang kembali.

Nyale ini dapet keluar di beberapa tempat seperti di Pantai Kaliantan Lombok Timur, Pantai Lenser dan Pantai Seger, Kuta. Namun puncak acaranya diadakan di Pantai Seger. Biasanya acara berlangsung selama beberapa hari, mulai dari pertandingan, Peresean, Bertandak, Pemilihan Putri Mandalika, Pentas Drama Putri Mandalika.

Temukan cerita dan destinasi wisata lain di website Asia Wisata